Posted by: khidmaty | January 31, 2008

Satu masalah tentang Bina’ Mahmuz Fa’i

Pertanyaan :

Terkait dengan fi’l amr dari amara, bisa antum jelaskan bagaimana kaidah pembentukannya??
Kemudian, bukankah kata “amara” ini bina’nya mahmuz fa’i yang mengikuti wazan fa’ala yaf’ulu? BErarti dalam buku amtsilatut tashrifiyah termasuk dalam bab satu tashrif istilahi fi’l tsulatsi mujarrad. Iya ndak sih?
Kalo iya, bukankah contoh untuk bina’ mahmuz fa’i yang dipake di sana bukan amara, tapi amala? Ya?
Tapi kenapa di buku itu tashrif-an dari amala kok begini: “amala-ya’mulu-amalan-ma’malan-aamilun-ma’muulun-uumul-laata’mul-ma’malun–ma’malun-mi’malun”.
Benar, gak?
Kalo benar, bukankah seharusnya kata “amara” perubahannya bisa diqiyaskan dengan “amala”. Lantas kenapa masdar dari amara (amran) berbeda dengan amala (amalan), dan kenapa pula fi’l amr dari amala di sana itu “uumul”, sedangkan antum mengatakan bahwa fi’l amar dari amara itu “mur”. KEnapa dalam buku itu fi’l amr dari “amala” bukan “mul”?

Jawaban :

Thob’an (memang), tashrifan ‘ala jombang’ dari lafadz “amala” adalah amala-ya’mulu-amalan-wa ma’malan- fa huwa- aamilun- wa dzaaka- ma’muulun- uumul- laa ta’mul- ma’malun(2x)- mi’malun.

Catatan :

1. isim mashdar dari “amala” biasanya yang dipake adalah yang mashdar simaa’i (sesuai dengan kebiasaan orang arab yang kita dengar) yaitu “amalan” bukan yang qiyaasi seperti di atas yakni “amlan”. Sebagai contoh, kita sering mendengar istilah orang arab untuk menyebut “panjang angan-angan” dengan “thuulul amal”. Sedangkan untuk fi’il “amara”, mashdar yang dipake adalah bentuk mashdar qiyaasi yakni “amran”, tidak bisa disamakan dengan mashdar dari “amala”. Kita pahami, yang jadi wazan(tolak ukur) bukanlah “amala” tapi “fa’ala”. Misalnya kita sering melihat tulisan, mendengar dan menyebut istilah “ulil amri” bukan “ulil amari”

2. kemudian, fi’il amar dari “amala” memang “uumul” dimana sebenarnya aslinya adalah u’mul (pake hamzah) yang mengikuti wazan “uf’ul”. Nah, dia terkena kaidah i’lal yang ke-11 menjadi “uumul”.

Bunyi kaidahnya adalah :

“ Al hamzataani idzaa il taqotaa fii kalimatin waahidatin, tsaaniyatuhumaa saakinatun, wajaba ibdaalu ats-tsaaniyati bi harfin naasaba ilaa harokati al-uulaa. Nahwu: Aamana wa Uumul, wa Iidam. Ashluhaa: A’mana, wa U’mul, wa I’dam”.

Yang kurang lebih artinya : jika ada dua hamzah bertemu dalam satu kalimah (kata) dimana hamzah yang kedua mati (disukun), maka hamzah yang kedua wajib diganti dengan huruf ‘illat (yakni alif, atau wawu, atau ya’) yang cocok dengan harokat hamzah pertama. Contoh : Aamana, Uumul dan Iidam. Asalnya : a’mana, U’mul dan I’dam.

Penjelasan ini, bisa dilihat dengan sangat gamblang di kitab Qowaa’idul I’lal Fi Ash-Shorfi li Al-madaaris al-Ibtidaaiyyah ( Kaidah-kaidah I’lal dalam ilmu shorof untuk siswa2 MI/SD) karya Syaikh Mundzir Nadzir yang beralamat di Sekaran, Ngronggot, Kertosono. Kitabnya sangat tipis, hanya terdiri 22 halaman dengan 19 kaidah beserta terjemahan bahasa jawanya. Ada juga contoh proses I’lal dari beberapa kata, tapi sengaja tidak diterjemahkan.

Hanya saja, lafazh “amara(memerintahkan)”, “akhodza(mengambil)” dan “akala(makan)” adalah lafazh-lafazh yang syadz (berbeda dengan kaidah baku) jadi kita tidak bisa mengqiyaskan secara mutlak dengan kaidah 11 di atas. Ini bisa dilihat di kitab “Al-Maufuud fi tarjamati nadzmil Maqshuud” ( Al-Maufuud yang membahas terjemahan dari Nazhmul Maqshuud) halaman 73 karya syaikh Ahmad Muthohar bin Abdurrohman atau langsung dilihat syarah kitab “Nazhmul Maqsuud”. Di kitab Qowaa’idul I’lal juga sudah disebutkan proses I’lal dari fi’il amar dari lafazh “akhodza”, “amaro” dan “akala”. Berikut ini prosesnya :

“Khudz ashluhu U’khudz ‘alaa wazni uf’ul. Ijtama’at al-hamzataani fii kalimatin waahidatin, tsaaniyatuhumaa saakinatun, fa ubdilat ats-tsaaniyatu waawan li sukuunihaawa indhimaami maa qoblahaa, fa shooro “uukudz”. Tsumma hudzifat al-waawu takhfiifan li katsroti al-isti’maali, fa shooro “ukudz”. Tsumma fa hudzifat hamzatu al washli li ‘adami al-ihtiyaaji ilaihaa, fa shooro “khudz”.

Tsumma qis I’laala “kul” wa “mur” bi I’laali “khudz” tajidu al-mitsaala. Wa yajuuzu hadzfu al-hamzati ats-tsaaniyati min “u’khudz” wa “u’kul” wa “u’mur” min ghoiri tabdiilihaa waawan”.

Sepemahaman saya, maksudnya sebagai berikut :

“Khudz, asalnya U’khudz mengikuti wazan uf’ul. Ada 2 hamzah berkumpul dalam satu kalimat, di mana hamzah yang kedua disukun (mati), maka digantilah hamzah kedua tadi dengan wawu karena hamzah kedua disukun dan hamzah pertama didhommah, jadilah “uukhudz” ( ini sesuai dengan kaidah 11 di atas ). Lalu wawu dibuang untuk meringankan pengucapan dan karena seringnya digunakan, jadilah “Ukhudz”. Langkah terakhir, hamzah washol dibuang kareana tidak ada lagi kebutuhan akan hamzah tersebut, jadilah “Khudz”.

Kemudian, kita disuruh oleh Mushannif (pengarang kitab) untuk mengqiyaskan proses I’lal dari “Mur” dan “Khudz” dengan proses di atas. Boleh juga proses I’lalnya dengan cara yang lebih singkat yakni hamzah kedua dari lafadz “U’khudz”, U’kul” dan “U’mur” langsung dibuang tanpa harus diganti wawu dulu (tidak lewat kaidah 11 dulu). Dengan demikian prosesnya dari “U’khudz” langsung berubah menjadi “Ukhudz”, selanjutnya hamzah washol dibuang, jadilah “Khudz”.

Kitab-kitab yang saya sebut di atas, insya Allah mudah didapatkan di toko-toko kitab di Jawa, khususnya Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur, karena sering dikaji oleh para santri di pesantren-pesantren atau madrasah-madrasah diniyyah yang masih menggunakan metode tradisional (pake bahasa jawa) dalam mengkaji kitab. Tafadhdhol, antum bisa mengakses sendiri toko-toko kitab tersebut di DIY ini.

Saya sangat menyarankan, meski secara otodidak, kita bisa mengkaji kitab-kitab tentang ilmu alat ini. Kita fahami, tentu penjelasannya lebih kompleks dari pada kitab-kitab yang berisi ringkasan atau buku-buku praktis. Apalagi bagi orang yang bisa berbahasa jawa, dimudahkan dengan adanya kitab-kitab terjemahan dalam bahasa Jawa (hanya, kadang ada beberapa kata yang berbahasa jawa kuno. Mungkin kita bisa tanya simbah-simbah kita. Saya pernah punya pengalaman di Bantul, simbah-simbah yang sudah sepuh bisa ngerti kalau saya mencoba mengartikan ayat-ayat Qur’an dengan bahasa jawa yang terkadang disisipi bahasa jawa kuno).

Ada satu buku yang menurut saya cukup bagus, tapi beberapa hari lalu baru sempat membaca secara intens. Judulnya seingat saya “Ash-Sharfu Al-Waadhihu, Shorof Praktis ‘Metode Krapyak’…”. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang i’lal sekaligus macam-macamnya. Model penyajiannya berbeda dengan Qowaa’idul I’lal, tapi intinya sama. Kelihatannya cukup bisa dipahami oleh banyak kalangan, meski pemula.

Selamat mendalami ! Yassarallahu Umuuronaa


Responses

  1. Assalaamu’alaikum Ustadz,

    Terima kasih atas informasi mengenai kitab i’lal yang ditulis antum. Secara tidak sengaja ana menemukan blog yang membahas masalah nahwu dan shorof. Ana jadi tambah sedikit pengetahuan mengenai tata bahasa arab dari antum.tolong dong di bahas apa sih yang disebut bina lafif mafruuq dan lafif maqruun ? maklum ana tidak tahu. apa mungkin kalau di daerah ana ( Tangerang ) dapat memperoleh kitab kitab shorof ( kaidah i’lal yang ada terjemahannya ) ?

  2. Wa’alaikumussalam…
    Afwan qoblan wa ba’dan, saya merasa belum pantas disebut seorang ustadz, saya masih menjadi seorang santri. Saya hanya ingin sedikit share ilmu yang saya dapatkan di pesantren. Itu pun masih belum begitu intens di sini, maklum belum pinter manaje waktu.
    Insya Allah lain kali tentang Bina’ dalam shorof akan saya bahas lebih detail.
    Tentang Bina’ lafif mafruuq dan maqruun:
    Bina’ lafif mafruuq merupakan salah satu macam bina’ dalam fi’il tsulatsi mujarrod (fiil yang terdiri dari 3 huruf asli) di mana huruf pertama dan ketiganya berupa huruf ‘illat (alif, wawu atau ya’). Contoh : Waqo… (hurufnya adalah wawu, qof, dan alif layyinah/alif bengkong)
    sedangkan bina’ lafif maqruun, huruf kedua dan ketiganya berupa huruf ‘illat, contoh : syawaa (Syin, wawu dan alif layyinah).
    saya punya temen dari daerah Suka Bumi, dia bilang banyak sekali kitab-kitab kuning di sana. Wah, kalau di Tangerang saya kurang tahu. Tapi yang jelas, kitab tentang i’lal khususnya Qowaa’idul i’lal) banyak dikaji oleh siswa-siswi madrasah diniyyah atau pesantren model tradisional, tapi ya terjemahan jawa. Ada juga buku “Belajar Bahasa Arab Praktis” karya Ahmad Munawari terbitan Nurma Media Idea Jogja. di bagian belakang, sedikit dibahas tentang kaidah i’lal.
    Semoga bisa sedikit membantu
    Syukron

  3. Asalamualaikum ,bagaimana caranya agar bisa cepat menghafal matan alfiyah?Afwan marrotan

  4. Waduh… hafal matan alfiyah? alfiyah Ibnu Malik? Gimana ya caranya?
    Yang pasti komitmen dulu lah..
    Wah, temen-temen di pondok pesantren jawa timuran atau pondok yang concern ke nahwu pasti banyak yang hafal. Kalo saya ma boro-boro hafal 1000 nazham, khatam ngajinya aja belum, masih jauh banget.. Kebetulan sejak ngaji waktu kecil, belajar nahwu dari alfiyah baru di jogja ini. Kalau belajar sendiri, masih banyak yang ga dong. Ada ustadz, itu pun pas di kajian kitab ba’da Isya’ yang banyak banget godaannya… Ngantuk dan capek, bukan di Madrasah Diniyah yang ba’da maghrib.

    Jujur saja, biasanya sregep ngafalin nazhaman pas kalo disuruh ma ustadzah, mau ujian atau pas dapet takziran ga pake seragam (he… ketahuan belangnya! Jangan ditiru ya!).

    OK Ukhti himatul, selamat menghafal !

  5. Asalamu’alaikum Ustadz
    Saya mau tanya tentang jenis-jenis idghom menurut ilmu shorof(qowaidul i’lal). mohon penjelasannya!
    Sebelum dan sesudahnya saya haturkan terima kasih.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  6. https://khidmaty.wordpress.com/2009/02/12/idghom-hanya-ada-dalam-ilmu-tajwid/

  7. Ada satu kitab bagus sekali namanya TAshrif Bina’ Af’al, karangan Muhammad Hamzah. Lengkap, ringkas dan padat. Saya merasakan…., semuanya jadi jelas dan terang…, melalui kitab ini.

  8. Juga…., masalah tashrif mahmuz fa’, dengan jelas dipaparkan disitu…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: